Makananan Sama tapi rasanya kok beda


Ketika kita bikin Indomie dirumah, kenapa rasanya tetap lebih enak kalau kita beli di pinggir jalan, atau di warung kopi? Padahal sudah disertai ceisin/sawi, telur, bawang goreng dan saos.

Bikin nasi goreng, ketoprak, gado-gado, mie ayam, kenapa rasanya beda ya dengan yang kita bikin sendiri.

Begitu juga saat ada yang mau coba bikin sendiri sate manis betawi setelah dikasih tau cara bikinnya, tetap saja mereka bilang” wah, kok beda ya sama yang di cang Soleh?”

Ada beberapa kemungkinan menurut saya. Pertama karena tidak betul-betul mirip cara masak dan komposisi racikan bumbunya. Kemungkinan kedua adalah suasana tempat makannya yang jelas berbeda. Kadang ada yang berkata makan mie ayam ditemani desinan mesin kendaraan dan debu jalan terasa nikmat. Yang ketiga menurut saya, dan inilah yang paling krusial yaitu factor rizki dari Allah SWT. Mungkin begitulah cara Allah membagikan rizki kepada manusia. Kalau semua orang bisa bikin sate manis betawi, maka cang soleh ga bisa dagang dong. Hihihi😛 Lagi pula kalau pun bisa, apakah mau bikinnya, sempat bikinnya, alatnya ada gak, atau ada hal tertentu yang tak bisa dijelaskan yang seolah menarik orang-orang untuk membeli. Yang menggerakkan setiap hati kan Allah. Setiap makhluk ada dalam kekuasaannya. Termasuk rizkinya. Suasana yang didapat merupakan factor rizki dari Allah itu. Orang-orang membeli pada si penjual dan si penjual makanan mendapatkan keuntungan. Begitulah bumi berputar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s